Hak Atas Kekayaan Intelektual bagi Entrepreneur
Seorang entrepreneur yang baik tidak hanya memiliki kemampuan berbisnis dan marketing, namun juga dapat melindungi kekayaan intelektual dari produknya. Untuk itu peserta Entrepreneurial Intensive Training kerjasama University of Ciputra Entrepreneurship Center dan Jawa Pos (UCEC-JP) dibekali dengan pengetahuan mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual atau yang umum dikenal dengan HAKI.
Kiat Mendapatkan Dana untuk Kegiatan Internet di Sekolah Keadaan Indonesia
Dalam era baru ini banyak sekolah yang sudah melaksanakan proses Managemen Berbasis Sekolah telah mampu mengatasi permasalahan dana dan solusinya. Yang penting sekarang adalah bagaimana kepala sekolah dan semua lingkungan sekolah tersebut bekerjasama untuk mencapai pengembangan sekolah yang diinginkan. Kuncinya adalah komunikasi yang terbuka dan transparan.
Read more..
Belajar Dari Kansas Melahirkan Entrepreneur Global
Kansas merupakan negara bagian di Amerika Serikat yang cukup makmur. Penghasilannya kebanyakan berasal dari peternakan, pertanian terutama gandum dan agrobisnis lainnya. Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi Internet, tren pekerjaan mulai bergeser ke arah produk-produk digital yang sering disebut sebagai the new economy. Beberapa negara bagian di AS mengalami perkembangan dahsyat di bidang ini, yaitu California, Texas, Washington, Pennsylvania, dan New York.
Read more..
Seperti perdebatan mengenai apakah pemimpin itu dilahirkan atau diajarkan, maka terjadi perdebatan yang menarik pula antara mereka yang percaya bahwa entrepreneur itu dilahirkan dan mereka yang percaya bahwa entrepreneur itu diajarkan. Yang percaya bahwa entrepreneur dilahirkan secara otomatis tidak percaya bahwa entrepreneurship bisa diajarkan. Yang percaya bahwa entrepreneur dapat diajarkan menolak pandangan bahwa entrepreneur dilahirkan. Bagaimana jika entrepreneur itu kedua-duanya, dilahirkan dan diajarkan?
Sebelum membahas mengenai pertanyaan tersebut, saya ingin memberikan alasan mengapa mendiskusikan masalah dilahirkan atau diajarkan ini penting. Ini adalah diskusi klasik di dunia pendidikan yang terkenal dengan istilah "Nature versus Nurture." Dan semua pendidik yang paham akan kepentingan nature dan nurture akan mengatakan bahwa kedua-duanya penting di dalam pendidikan. Contoh: jika kita percaya bahwa manusia dilahirkan dengan potensi baik, maka kita akan dengan penuh semangat mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demikian juga jika kita percaya bahwa manusia itu lahir tidak mungkin bisa baik, maka kita tidak akan melakukan usaha sia-sia mengajarkan kebaikan kepadanya. Secara parallel konsep ini dapat diterapkan di dalam diskusi kita akan pendidikan entrepreneurship.
Bagi yang memahami bahwa entrepreneurship ini hanyalah merupakan proses alamiah dari manusia yang didapat dari bakat yang diturunkan secara genetic, maka pendidikan entrepreneurship tidaklah perlu diprioritaskan sebab toh semuanya kembali kepada alasan genetika. Tetapi kebalikannya, bagi yang memahami entrepreneurship hanya bisa didapat melalui pengajaran dan pendidikan, baik informal, non-formal, maupun formal, maka pendidikan entrepreneurship akan menjadi prioritas utama di dalam menjadikan dan membentuk entrepreneur-entrepreneur. Diskusi yang jelas akan hal ini akan memberikan dampak yang serius atas apa yang hendak dilakukan di dalam usaha mencetak entrepreneur-entrepreneur baru di bumi nusantara ini. Di artikel singkat ini, sejalan dengan pendapat para ahli pendidikan tentang diskusi klasik Nature versus Nurture, maka saya juga mengatakan bahwa entrepreneur dilahirkan dan diajarkan.
Sekarang, mengapa saya mengatakan bahwa entrepreneur dilahirkan dan juga diajarkan? Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menjelaskan apa yang saya pikirkan mengenai entrepreneur. Sejauh saya mempelajari tentang entrepreneurship, banyak kali saya temukan bahwa entrepreneurship didefinisikan dengan sangat sempit, yaitu hanya sebagai ketrampilan dan pengetahuan dalam hubungannya dengan membuka lahan bisnis yang baru. Pengertian akan entrepreneurship yang dihubungkan langsung dengan dunia bisnis inilah yang membatasi pengertian yang asli dari entrepreneurship. Istilah entrepreneur berasal dari bahasa Prancis entreprendre yang artinya mengambil langkah memasuki sebuah aktifitas tertentu atau sebuah enterprise; atau menyambut tantangan. Di dalam pengertian yang asli dari kata entrepreneur di dapat tiga hal yang penting, yaitu creativity-innovation, opportunity creation, dan calculated risk-taking. Tiga unsur inilah yang utama yang ada di semua entrepreneur manapun.
Maka, jika entrepreneur dimengerti di dalam tiga aspek yang disebutkan di atas, tidaklah salah jika dikatakan bahwa kita semua lahir sebagai entrepreneur. Kalau kita mengamati pertumbuhan anak-anak, kita semua pasti sepakat bahwa anak-anak itu semua lahir dengan potensi kreatif-inovatif, pencipta peluang yang handal, dan pengambil resiko yang berani. Anak-anak sejak lahir adalah penjelajah-penjelajah ulung yang tidak mengenal lelah. Mereka setiap saat dan selalu mencipta kesempatan untuk belajar mengenai apapun di dunia ini. Dan mereka juga selalu berkreasi tanpa henti dengan segala keluguan dan kenaifan mereka. Mereka juga penuh dengan keberanian melakukan banyak hal walaupun ada banyak bahaya yang belum mereka pahami. Ini semua potensi-potensi yang secara alamiah sudah tertanam di dalam diri anak-anak sejak lahir tanpa perlu adanya pendidikan terlebih dahulu. Oleh sebab itu, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa semua manusia lahir dengan potensi entrepreneur. Maka juga tidak salah jika dikatakan bahwa entrepreneur dilahirkan.
Jika kita melirik pendidikan formal maka kita akan mendapatkan hal menarik dalam kaitannya dengan potensi entrepreneur yang sudah dipunyai anak-anak sejak lahir. Kalau kita perhatikan aktifitas-aktifitas di sekolah-sekolah mulai playgroup sampai TK maka akan ditemukan dengan sangat kaya kreatifitas, penciptaan peluang, dan pengambilan resiko dari murid-murid yang mewarnai seluruh proses belajar mengajar di kelas. Tetapi yang menyedihkan adalah bahwa proses kreatif, penciptaan peluang, dan pengambilan resiko tersebut mendadak berhenti secara radikal ketika murid masuk ke sekolah dasar dan ini berlanjut bahkan sampai tingkat universitas. Secara umum, di semua sekolah di negara manapun tiga aspek tadi menjadi terlupakan sejak memasuki bangku SD. Negara-negara maju baru dalam kira-kira dua puluhan tahun terakhir ini berupaya mereformasi sistem dan pola pendidikan yang hendak mengutamakan seni dimana di dalamnya terdapat pelatihan intensif kreatifitas dan inovasi. Tidak semuanya mengadopsi upaya reformasi ini sebab sistem pendidikan tradisional masih mengakar dengan sangat kuat.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa pendidikan formal menjadi salah satu penghambat berkembangnya potensi entrepreneur yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Yang lebih menyedihkan adalah, bahwa pendidikan formal tidak hanya memiliki kekuatan untuk menghambat potensi entrepreneur tetapi bahkan memiliki daya untuk menhancurkan atau mematikan potensi entrepreneur di dalam diri manusia. Dari playgroup sampai TK hanyalah sekitar tiga tahun, dibandingkan dengan dari SD sampai lulus universitas yang mencapai enam belas tahun, maka tidak heran jika proses pertumbuhan potensi entrepreneur jadi terhambat atau mati. Jika pada kenyataannya proses pendidikan formal bisa menghambat potensi entrepreneur, maka secara berbalik seharusnya proses pendidikan formal juga bisa mengembangkan dan melatih potensi entrepreneur. Oleh sebab itu, sangatlah benar jika disimpulkan bahwa entrepreneurship juga haruslah diajarkan, dilatihkan, dan dididikkan.
Jika model pendidikan formal tidak direformasi maka pendidikan formal kita telah berkontribusi menghambat atau mematikan calon-calon entrepreneur di dalam diri anak didik kita. Jadi betul seperti yang pernah disampaikan oleh Dr. Ir. Ciputra bahwa kita perlu merubah model pendidikan kita untuk boleh mengakomodasi aspek-aspek kreatif-inovatif, penciptaan peluang, dan pengambilan resiko yang terhitung. Jika tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjadikan manusia Indonesia yang seutuhnya, maka pendidikan nasional kita perlu memikirkan proses belajar mengajar yang berbasis entrepreneurship. Inilah lompatan kuantum yang dimaksudkan oleh Dr. Ir. Ciputra dalam orasi ilmiahnya di Universitas Tarumanagara beberapa waktu lalu.
Kita semua terlahir dengan potensi entrepreneur dan pendidikan dapat mengembangkan atau mematikan potensi tersebut, maka langkah apakah yang paling tepat untuk diambil di dalam pengaturan proses belajar mengajar di dunia pendidikan formal? Akankah kita membiarkan proses pendidikan yang menghambat potensi entrepreneur di dalam diri kita yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa? Ataukah kita akan turut serta mengembangkan dan memelihara potensi entrepreneur itu melalui proses pendidikan formal yang lebih baik? Saya mengambil posisi untuk terjun ke dalam pengembangan dan pemeliharaan potensi entrepreneur melalui pendidikan dengan model pembelajaran berbasis entrepreneurship.
Akhir kata, jika pendidikan nasional boleh ditujukan kepada pembelajaran berbasis entrepreneurship, maka bukan saja tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai dengan lebih baik, tetapi juga masalah kemiskinan dan kemelaratan yang telah menghantui kehidupan bangsa kita akan dapat ditanggulangi dengan penuh harapan. Suatu saat nanti kita boleh melihat bangsa kita berjaya sebagai bangsa yang entrepreneurial yang menghormati potensi pemberian Tuhan dan melaksanakan tanggungjawab pendidikan dengan setia.
*penulis adalah Academic Affairs Advisor Ciputra University dan Education Advisor University of Ciputra Entrepreneurship Center.
Aktivasi Diri Sesuai Talenta
Orang yang bekerja atau mengaktualisasikan dirinya dengan talentanya tidak akan merasa ia sedang bekerja sambil sesekali memperhatikan jarum jam, tapi ia akan mengalir dan merasakan kedamaian dalam pekerjaannya. Ia akan merasakan pekerjaannya sebagai hobi atau kesukaannya sehingga tidak terasa ada beban dan tekanan ketika ia sedang melakukannya.
Oleh Gagan Gartika
“Kemajuan sering menjadi milik orang lain, karena kita tak meneruskan pekerjaan dan berhenti ditengah jalan”.
Banyak orang mundur dan berhenti ditengah jalan, ketika sedang mengerjakan sesuatu, padahal mungkin saja selangkah lagi maju. Misalnya, kuliah selangkah lagi lulus, tinggal skripsi. Penulisan sebentar lagi jadi buku, tinggal bab terakhir. Usaha, sedikit lagi jalan, tinggal butuh kesabaran. Namun karena mundur, akhirnya kuliah, buku serta usaha menjadi tak sukses.
Yang saya khawatirkan, bukan sekedar mundur atau berhentinya, namun yang ditakutkan. Kita bisa terjangkit sifat kelembaman, dimana bila seseorang terkena kelembaman, ia bisa terus malas, sehingga apabila tak ada orang yang membangkitkan kembali, tujuan akhir tak tercapai.
Dalam ilmu fisika, hukum kelembaman itu, intinya, yaitu apabila benda diam dalam satu tempat dan tidak ada gesekan atau gesekannya nol, benda tersebut akan diam terus. Begitu juga ketika benda tersebut bergerak, dan tidak ada gesekan, benda tersebut akan terus bergerak.
Maka, ketika suatu benda bergerak terus agar berhenti, perlu rem yang menghentikan pergerakannya. Sebaliknya, bagi benda yang diam terus, diperlukan energi untuk menggerakan.
Begitu juga dalam kehidupan manusia, ketika seseorang diam terus dirumah, dan tak ada kegiatan, orang tersebut bisa semakin malas, ide-ide untuk bekerja menjadi hilang, tak ada inovasi, tak ada kegiatan apa pun, yang ada maunya tidur, paling banter makan. Sehingga tidur makan, tidur makan—merupakan kegiatan sehari-hari—
yang akhirnya bisa terkena sifat lembam, apalagi tak ada yang memotivasi.
Kegiatan tersebut banyak terlihat dalam kehidupan dimasyarakat luas. Suami meskipun sudah punya banyak anak, masih malas bekerja, karena merasa penghasilan sudah ditopang isteri dan orang tuanya. Perusahaan berjalan di tempat, karena pegawainya tak mau berubah. Pegawai pemerintah tetap menjalankan birokrasi ketat, karena menurut pengetahuannya, birokrasi bisa mengamankan peraturan yang dimanatkan undang-undang. Tukang sayur, tukang beca, polisi, pegawai pengadilan tetap saja berprilaku seperti biasanya. Tak ada perubahan yang berarti, ketika pola kegiatannya tak ada yang merubah.
Kecuali pola tersebut ada yang menggerakan, misalnya, dalam perusahaan ada pemimpin yang selalu belajar, sehingga bisa mendongkrak kemajuan. Dalam organisasi ada organisator yang bisa memberikan penyegaran dan memiliki visi kedepan, sehingga anggotanya mau bergerak mencapai sasaran. Dalam pembuatan filem, ada sineas, sutradara, sebagai pembaharu, yang mampu membuat film menjadi hidup. Dalam pembangunan, ada arsitek yang mampu merancang suatu bangunan menjadi kuat serta memikat.
Begitu juga dalam hidup perlu teman lain, yang mampu mendorong dan memberikan inspirasi bagi kemajuan pribadi dan peningkatan karier, serta kemajuan lainnya.
Sehingga, kata orang bijak, kita jangan berlama-lama berdiam diri, otak kita menjadi tumpul. Juga jangan kelamaan menganggur, ilmunya akan hilang, serta kelamaan tak olah raga, badan keburu sakit, kelamaan merenung, malah akan menambah stres. Karena itu, sebaiknya, kita mulai berenang, supaya kita dapat menyelami dalamnya lautan. Mulai Bekerja sambil belajar, supaya kita berpengalaman dan berkembang. Dan menggali terus, siapa tahu dibalik cangkulan terakhir itu ada emas, mengamalkan ilmu walaupun satu ayat, sehingga bisa membawa kehidupan yang lebih baik dan bermakna.
Banyak orang tak berhasil karena berhenti ditengah jalan, ketika mengerjakan sesuatu. Misalnya, pedagang bubur berhenti karena tak laku, begitu juga pedagang bakso berhenti berdagang karena tak kuat menghadapi persaingan. Dokter lupa praktek, karena jadi politikus, dan bisa saja seorang insinyur pertanian, akan lupa bertani, ketika lebih banyak bekerja dibelakang meja, yang jarang berhubungan dengan petani.
Banyak lagi, di masyarakat yang memiliki keahlian tapi tak berguna, dan hidupnya terlunta-lunta, menanti belas kasihan orang lain, karena ia tak pernah mengimplementasikan ilmu. Padahal kalau ia mengamalkan, walaupun itu sedikit, pasti akan menghasilkan. Misalnya, bisa mencangkul, atau menggali saja kalau diamalkan akan menghasilkan uang, terlihat kuli gali banyak bekerja pada proyek-proyek pembangunan jalan. Demikian juga jika seseorang mampunya, hanya menggoes sepeda, ya bisa menjalankan ilmu itu, sedangkan yang mampunya berdagang, sebaiknya berdaganglah, apalagi mempunyai keahlian dibidang perbaikan mesin, perbengkelan mobil, perbaikan kulkas atau barang-barang elektronik, tinggal mau mengamalkan, pasti menghasilkan. Juga bagi keahlian lain, perlu mengamalkan ilmu agar berhasil. Bila mereka diam saja, ilmu yang dimiliki akan menjadi lembam dan hilang.
Untuk itu agar tidak lembam, ketika pekerjaan sedang berjalan, sebaiknya kita berusaha tak pelu berhenti dulu, tetapi perbaiki kekurangan kita, karena bisa saja selangkah lagi maju.
Dan ketika anda berhenti juga, ini menandakan anda masih tak sabaran dalam berusaha, belum konsisten, dalam melakukan sesuatu pekerjaan, yaitu berhenti sebelum mendapatkan hasil. Akhirnya sering terjadi, yang menikmati hasil, orang yang menggantikan. Sementara kita sendiri sering gigit jari,
Umumnya perusahaan yang tahan banting, biasanya mengalami kemajuan, karena perusahaan tersebut telah mengalami berbagai perjalanan pahit, telah makan asam garam, penuh lika-liku pengalaman. Apalagi perusahaan itu ditangani oleh orang yang cekatan, dan mempunyai tekad untuk maju.
Banyak perusahaan yang tadinya kecil, jadi perusahaan raksasa, contoh perusahan Toyota, awalnya perusahaan penghasil kendaraan truk dengan body dan mesinnya masih kasar, tetapi sekarang merupakan perusahaan ternama yang dipandang dunia. Bisa mengalahkan mobil-modil buatan Eropah. Begitu juga kita sering melihat usaha-usaha di sekitar kita, misalnya, pembuatan kaos, pembuatan spanduk, kursus, usaha sekolahan, semula tempat usahanya mengontrak, karena ditekuni, tempat bisa berubah menjadi milik sendiri.
Sehingga kalau begitu, agar tak lembam serta bisa mendatangkan kemajuan, sebaiknya kita perlu bergerak terus dan pantang menyerah dalam berjuang dan bekerja, kalau nda begitu, keberhasilan akan jadi milik orang lain. (gg)
*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta.
Email: gagan@kumaitucargo.co.id
Kekuatan Angka 1
“It’s never crowded along the extra mile. - Persaingan pasti berkurang pada tahap yang lebih tinggi.”
Wayne Dyer, CoAuthor of How to Get What You Really, Really, Really, Really Want
Angka 1 memiliki arti yang luar biasa. Walaupun angka terkecil (karena semua hitungan dimulai dari angka 1), tetapi angka 1 sangat besar artinya. Angka 1 dapat menggambarkan sesuatu yang tunggal dan unik karena tak tergantikan, misalnya kalau kita menyebut sesuatu hanya ada 1 di dunia. Angka 1 juga melambangkan banyak hal positif misalnya; kesatuan, kebersamaan, sang juara, dan lain sebagainya.
Tak heran jika angka 1 juga kerap digunakan dalam sebuah misi khusus dan istimewa, contoh ekspedisi ke luar angkasa pertama berawak dinamakan STS-1. KK Indonesia meluncurkan program kerja 2010 dinamakan KK-ONE. Contoh lain adalah kejuaraan balap mobil dunia menggunakan Formula 1, dan masih banyak contoh lain yang menggunakan angka 1 sebagai simbol keunggulan atau istimewa.
Dalam hal tindakan untuk mencapai tujuan positif entah dalam karir, bisnis, keluarga, kehidupan spiritual, sosial, intelektual, dan lain sebagainya, angka +1 juga penting. Coba saja tambahkan 1 tindakan positif setiap harinya, sesuai tujuan yang Anda maksud. Pasti suatu saat tambahan-tambahan 1 aktifitas positif & sederhana itu berdampak luar biasa dalam kehidupan Anda.
Saya mengambil satu contoh misalnya seorang distributor network marketing, agen asuransi atau pemasar lainnya. Jika ia rajin menambah 1 calon konsumen setiap hari, berarti ia akan mendapatkan tambahan 30 konsumen dalam satu bulan. Jumlah tersebut dapat bertambah, karena mungkin saja 30 calon konsumen tadi merekomendasikan calon konsumen lainnya.
Contoh lain yaitu seorang manajer sebuah kantor pemasaran yang membawahi 50 staf pemasar. Jika ia mengharuskan setiap staf menambah 1 konsumen setiap minggu, berarti jumlah konsumen akan bertambah 50 X 4 = 200 konsumen. Jika masing-masing konsumen membeli produk seharga 100 ribu rupiah, berarti omset perusahaan tersebut setiap bulan dapat meningkat 20 juta rupiah (200 X Rp. 100.000,-).
Tak berbeda jika Anda ingin meningkatkan produktifitas kerja. Coba Anda bekerja 1 jam lebih awal dan berhenti bekerja 1 jam lebih lambat. Jika dalam satu bulan masa kerja 25 hari, berarti produktifitas kerja Anda pasti lebih baik dengan tambahan 50 jam kerja per bulan.
Kalaupun Anda ingin menambah ilmu pengetahuan, tak ada salahnya menambah jatah waktu 1 jam per hari untuk membaca buku ilmu pengetahuan atau literatur bermanfaat lainnya atau belajar dari seminar, tentu jumlah buku dan seminar yang Anda ikuti juga bertambah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan maupun ide-ide inspiratif yang Anda serap tentu untuk bekal agar hidup lebih sehat, kaya, dan bahagia juga tentu lebih banyak.
Dari segi motivasi pencapaian prestasi hidup atau keinginan untuk hidup lebih baik dan sukses, angka 1 juga dapat bermakna penting. Kalau Anda gagal, kemudian berusaha 1 kali lagi, dan begitu seterusnya maka angka +1 benar-benar memberi arti luar biasa. Karena dengan berusaha 1 kali lagi, berarti Anda memperbesar peluang kesuksesan. Jadi jangan remehkan kekuatan angka +1 karena bisa jadi akan membawa Anda mencapai kehidupan ideal yang Anda dambakan.
Angka +1 juga dapat menjadi kunci keharmonisan keluarga. Selain bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga, coba berikan tambahan 1 jam waktu untuk keluarga, tentu Anda menjadi lebih dekat dengan keluarga. Sehingga hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih harmonis.
Berdasarkan contoh-contoh yang telah saya ungkapkan di atas, coba perhatikan bahwa angka +1 memiliki kekuatan yang luar biasa. Kunci dari kedahsyatan kekuatan angka +1 tersebut juga hanya 1 yaitu bersikap konsisten. Jadi walaupun hanya satu tindakan positif dalam satu hari tetapi jika dilakukan dengan konsisten atau terus menerus selama rentang waktu cukup lama, maka hasilnya akan benar-benar mengesankan.
Konsisten melakukan 1 hal penting dan bermanfaat setiap hari mungkin terasa sulit dilakukan. Tetapi saya memiliki beberapa tips agar Anda mampu selalu bersikap konsisten, yaitu;
Angka +1 memang memiliki kekuatan yang luar biasa, membangun kehidupan menjadi lebih berkualitas dalam arti berhasil dalam kehidupan materi, berarti bagi diri sendiri dan orang lain, hidup bahagia dan penuh kedamaian. Tetapi kekuatan angka +1 tersebut hanya ada jika kita konsisten melakukan seluruh hal positif yang ditambahkan dalam aktifitas keseharian itu. Jika Anda semakin konsisten menambahkan dan melaksanakan 1 hal positif, semakin mudah Anda mendapat kehidupan ideal yang Anda dambakan.
* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku Bestseller. Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com
Antonius Tanan Mendidik “Entrepreneur”
Awalnya memang dari gagasan pengusahaan papan atas Ciputra yang serius untuk menyebarluaskan semangat kewirausahaan atau entrepreneurship. Keyakinannya, bangsa ini bakal maju jika banyak orang berjiwa dan bersemangat entrepreneur.
Pada bulan Desember 2009 lalu, PT Stella Maris International Education mengajak siswa-siswi untuk berpartisipasi dalam Penerimaan Murid Baru tahun ajaran 2010/1011. Program ini pertamakali diadakan oleh Stella Maris untuk memberi kesempatan kepada siswa-siswi ikut andil dalam Penerimaan Murid Baru. Program tersebut bernama Student Get Students. Di sini para siswa diminta untuk merekomendasikan teman-temannya, jika sang teman berhasil melewati serangkaian tes dan masuk ke Stella Maris, maka siswa akan mendapatkan voucher belanja di Carefour atau Voucher Belanja Buku di Toko Buku Gramedia.
Selain mendukung program sekolah, program ini juga mampu melatih jiwa entrepreneurship siswa. Salah satu siswa yang berhasil yaitu Wilbert Pangestu. Siswa SMA kelas XII Stella Maris School ini mendapatkan Voucher Belanja Carrefour senilai Rp 700.000,-. “Program yang diadakan Stella Maris ini sebenarnya mudah dilakukan. Program ini sangat bagus bagi siswa-siswi Stella Maris. Banyak siswa-siswi yang belum mengikuti program ini karena mereka pikir sulit untuk dilaksanakan. Padahal setelah menjalankannya sangat mudah, dan hadiah yang didapatkan pun menarik,” ujar Wilbert ketika mengambil hadiah di ruang PMB. So who’s the next? (jny)
Hak Atas Kekayaan Intelektual bagi Entrepreneur
Seorang entrepreneur yang baik tidak hanya memiliki kemampuan berbisnis dan marketing, namun juga dapat melindungi kekayaan intelektual dari produknya. Untuk itu peserta Entrepreneurial Intensive Training kerjasama University of Ciputra Entrepreneurship Center dan Jawa Pos (UCEC-JP) dibekali dengan pengetahuan mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual atau yang umum dikenal dengan HAKI.
Ini Dia Kampung Terang Hemat Energi 2010
PT Philips Indonesia melakukan program donasi sosial bertajuk "Kampung Terang Hemat Energi (KTHE) 2010" di Kampung Bambu Kuning, Marunda, Jakarta Utara, Rabu (24/2/2010) ini.
Anak-anak Papua Juga Memiliki Potensi
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dan PT Freeport Indonesia bekerja sama untuk menjaring potensi anak-anak Papua melalui kompetisi bertajuk "Menambang SDM Papua".
Peluang Bisnis Penyewaan Mainan Anak
Mainan tak bisa dipisahkan dari keseharian si kecil. Namanya juga anak-anak, sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain. Sebaiknya, mainan anak tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Untuk mainan edukatif, tentu ayah-ibu tak keberatan merogoh kocek lebih dalam.
Tips To Help You Find Your Ideal Career
Want to change careers?
How to make a career change?
Want to change careers?